Oleh: Abdul Wahab Ahmad
Pertanyaan:
Biasanya yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah umat Islam yang mendoakan beliau agar mendapat rahmat dari Allah. Namun, dalam surat al-Ahzab: 56, disebutkan bahwa Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad. Apa maksud shalawat dari Allah atas Nabi Muhammad, apakah itu berarti Allah mendoakan Nabi Muhammad? Kalau ya, maka berdoa ke siapa? Selain itu, apakah bisa kita sebagai umat islam juga mendapatkan Shalawat dari Allah sebagaimana Nabi Muhammad?
Jawaban:
Pembaca yang budiman, sebagai seorang muslim, kita semua akrab dengan yang namanya shalawat yang kita baca untuk mengagungkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Berbagai perintah membaca shalawat bisa dilihat dari al-Qur’an maupun hadis beserta dengan segala keutamaannya yang sangat banyak. Shalawat biasanya memang dimaksudkan sebagai doa kebaikan atas Nabi Muhammad agar ia mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Dalam hadis dijelaskan bahwa pembaca shalawat dijanjikan pahala 10 kali lipat dari apa yang dia baca.
Namun, yang memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad memang bukan hanya manusia saja, Allah juga menyampaikan shalawat atas hamba-hambanya, demikian pula para Mailakat. Hal ini disebutkan dalam firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)
Makna shalawat dari Allah bukanlah Allah mendoakan Nabi Muhammad sebab sudah jelas bahwa Allah adalah Tuhan yang menerima doa, bukan sosok yang berdoa kepada siapa pun. Secara bahasa, doa berarti permintaan dari yang lebih rendah derajatnya kepada yang lebih tinggi derajatnya. Sebab itu, mustahil Allah berdoa sebab Dia adalah Yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Dia adalah Tuhan pengabul doa, bukan sosok yang berdoa; Dia adalah Tuhan yang memutuskan permintaan, bukan sosok yang meminta dari selain-Nya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, makna shalawat dari Allah adalah sebagai berikut:
وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ هِيَ رَحْمَتُهُ لَهُ وَبَرَكَتُهُ لَدَيْهِ
Shalawat dari Allah atas seorang hamba adalah pemberian rahmat dan barakah kepadanya. (al-Qurtubi, Tafsir al-Qurthubi, IX, 198)
Lalu apakah bisa kita sebagai umat Islam juga mendapatkan shalawat dari Allah sebagaimana Nabi Muhamad mendapatkannya? Jawabannya adalah bisa, selama memenuhi kriterianya. Dalam al-Qur’an, disebutkan beberapa kriteria orang yang mendapatkan shalawat dari Allah, yakni:
Orang-orang beriman yang gemar bertasbih. Secara umum orang-orang beriman yang banyak menyebut Allah dan bertasbih setiap hari juga mendapat shalawat dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. Al-Ahzab: 41-43)
Menurut penjelasan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, ayat tersebut turun karena merespons shalawat yang diberikan oleh Allah dan para Malaikat kepada Nabi (al-Ahzab: 56). Mereka berkata: “Itu adalah karunia khusus untukmu wahai Rasulullah, dan kami tidak mendapat apa pun dalam hal itu”. Kemudian, Allah menurunkan ayat di atas sebagai kabar gembira pada umat Islam dan sekaligus nikmat dan anugerah terbesar dari-Nya.
Orang-orang yang bersabar ketika mendapat ujian. Mereka yang tangguh pantang putus asa dari rahmat Allah ketika mendapat aneka musibah adalah yang memenuhi kriteria mendapat shalawat dari Allah, sebagaimana dalam ayat:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh shalawat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS: al-Baqarah: 155-157)
Orang yang berbaris di shaf sebelah kanan imam ketika salat berjamaah. Urusan barisan shaf bukanlah hal sepele sebab yang berdiri di sebelah kanan imam akan mendapatkan shalawat dari Allah, sbagaimana dalam hadis berikut:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ
Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat atas makmum yang ada di shaf sebelah kanan imam. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Tentang hal ini, Syaikh Mulla Ali al-Qari dalam Mirqat al-Mafatih menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan kemuliaan shaf sebelah kanan sebagaimana banyak diterangkan oleh para ulama bahwa Allah menurunkan rahmatnya pertama kali atas orang yang berbaris di sisi kanan imam baru kemudian ke sisi kiri imam. Sebagian ulama kemudian menjelaskan bahwa bila sisi sebelah kiri kosong, maka yang lebih utama adalah mengisi sebelah kiri yang kosong tersebut daripada melanjutkan berbaris di kanan agar shaf seimbang. (Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih, III, 852)
Itulah di antara orang-orang yang beruntung yang akan mendapat shalawat dari Allah. Sebab itu kita harus berusaha memenuhi kriteria di atas dengan cara memperbanyak berzikir, bertasbih, menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi kesulitan hidup dan shalat berjamaah dengan berusaha berada di shaf sebelah kanan imam. Semuanya perlu dilakukan dalam rangka berburu rahmat dan ampunan dari Allah, terutama dalam bulan suci Ramadhan ini. Ketika Allah telah memberikannya, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan kebahagiaan dunia akhirat sudah pasti akan didapat. Semoga kita termasuk salah satu yang mendapatkan Shalawat dari Allah. Amin.

